selewat

Invest biar gak tongpes!

Gak postingan ini bukan buat kuliahin kalian supaya nabung blablabla, cuma mau berbagi cerita dari perspektif berbeda aja. Jadi gini…. Dari lulus kuliah duluuuuuu (iyap udah lama banget lulusnya, umurnya udah banyak juga) alhamdulillah saya langsung kerja, jadi kacung kampret, istilah temen buat pekerja kasta rendahan macam kami. Persis seperti prediksi ibu waktu itu, sebagai freshgrad yang akhirnya nyicipin punya duit sendiri, saya gak bakalan bisa punya tabungan.

Tahun dan pekerjaan silih berganti, saya tetap gak bisa nabung. Alasannya banyak, misalnya pas gajian kebetulan lagi jakarta great sale, pengeluaran bulanan buat budget belu kado karena banyak yang ultah atau harus kondangan atau saya yang ultah sehingga harus traktir. Pokoknya ada aja kebetulan-kebetulan mengasyikkan buat buang-buang hasil kerja keras sebulan (cieee kayak banyak aja kerjaannya, padahal banyakan browsing).

Sampai akhirnya dua tahun yang lalu saya dipaksa untuk milih (antara kerja atau) menyelesaikan kuliah. Beberapa tahun sebelumnya saya menggebu-gebu buat melanjutkan gelar biar genap sarjana S1 yang ternyata harus terseok-seok karena jadwal kerja yang lebih banyak lembur.

Jadilah saya pengangguran sengsara, karena selain harus benar-benar fokus kuliah (soalnya teman seangkatan udah lulus semua :'(( ) uang jajan pun dijatah, amsyiong bangetlah. Secara mahasiswa semester akhir yang gak lulus-lulus kan perlu banyak dana untuk menyelesaikan skripsi, contohnya dana fotocopy dan beli tinta printer, dan yang gak kalah penting dana buat ngetik sambil mencari inspirasi di pojokan kafe biar tetep keliatan keren dan gak butek.

Kalau sinetron mungkin judul hidup saya waktu itu “musibah membawa berkah” karena dari semua kesusahan yang terjadi saya jadi bertekad pas nanti kerja supaya punya tabungan yang biar sedikit tapi cukup buat memenuhi kebutuhan sendiri dan beli pulsa biar bisa internetan dan update sosmed.

Setelah riset selama jadi pengangguran, pas kerja saya udah yakin banget buat invest tapi tetap nabung. Loh ngapain nabung? Karena ibarat kulkas, investasi itu es batu nah tabungan biasa jadi air esnya, jadi kalau lagi aus banget kan gak perlu nunggu es batunya cair dulu bisa langsung minum air es aja.

Namanya investasi pasti semua mau untungnya besar tapi risiko minim, tapi sadar diri sebagai anak bau kencur yang gak ngerti apa-apa akhirnya saya memutuskan untuk menjadi moderat dengan membagi untung rugi 50:50. Jenis investasi dengan modal kecil dan menerima profil risiko saya adalah reksadana campuran, tapi setelah baca sana-sini kok jenis ini untungnya kecil banget kapan saya kaya nya kalau gitu?? jadilah saya mix, campuran dan saham dengan pembagian 70:30 (untung boleh nambah tapi rugi jangan gede-gede juga).

Trus beli reksadananya dimana? Di bank biasa buat nabung bisa? Bisa banget. Cuma waktu itu saya datang ke Bank M****** dan katanya reksadana bisa dibeli di cabang yang ada Waperd (semacam sertifikasi untuk pegawai bank yang mengelola investasi) atau amannya datang langsung ke kantor pusat (cabang pusat).

Dan setelah gugel demi alasan ke praktisan dan jarak, akhirnya saya milih commbank. Sempat ragu juga karena ini kan bank asing yang notabenenya masih baru nanti gimana-gimana tapi om gugel berkata sebaliknya. Yaudah deh, pas dateng ternyata saya harus buka rekening dulu baru bisa beli reksadana. Abis beres urusan rekening, kirain bisa langsung beli ternyata harus isi kuesioner yang nantinya menentukan saya ada di profil risiko mana konservatif, moderat atau agresif. Pegawainya akan menjelaskan kok kalau bingung mau pilih reksadana apa (karena ternyata buanyaaaak banget).

Sekedar saran aja sih, lebih baik gugel atau tanya ke orang dekat soal latar belakang perusahaan manajer investasi dari reksadana yang mau dibeli, performa reksadananya selama minimal 3 tahun terakhir, dan kalau tertarik bisa cek tren investasi yang sedang berjalan supaya tujuan investasi tetap terkontrol maksimal.

Saya sendiri selain mempertimbangkan poin-poin di atas, juga mempertimbangkan masalah halal-haram investasi. Soal ilmu fiqih ekonomi islam saya mah cetek bangetlah, tapi demi hati terasa lebih tentram saya milih reksadana campuran dan saham yang syariah. Sebelum memutuskan milih dua produk ini, dari sekian banyak sudah saya sortir beberapa kandidat trus teliti baca prospektusnya dan dibandingkan (rekam jejak MI&reksadana, pengelola dan cara kerja yang membuat reksdana ini syariah/beda dari konvensional). Rejaki halal yang dikelola dengan halal insyaallah jadi berkah dunia akhirat, amiin.

Target invest saya masih 5-10 tahun lagi, jadi masih deg-deg seeerr juga bisa konsisten gak nih selama itu, mudah-mudahan bisalah ya. Gapapa nunggu es batunya rada lama (es apa yang jadinya 5 taun bok!) kan masih tetap bisa minum air es, dinginnya pas lah buat beli paket internet sambil cek-cek sale trus istirahat ngopi di pojokan kafe 🙂

“Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir r.a,”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka, barang siapa yang takut terhadap syubhat, berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa dia adalah hati”

(HR. Bukhari dan Muslim).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s