Uncategorized

Abang

Jumat pertama setelah hari raya, dua bocah berjalan riang di kanan-kiri Ayah lucu bergandengan memakai sarung dengan motif sama. Sarung ‘kembar’ yang sengaja aku belikan untuk dua jagoan kecilku solat ied kemarin. Apalah yang kurang dalam hidupku sekarang, ketiga anakku tumbuh sehat, dua anak laki-laki 6 dan 9 tahun serta satu bayi cantik, tawa ketiganya memenuhi langit-langit rumah setiap saat. Abang, anak pertamaku bahkan sudah menggenapkan koleksi pialanya saat kenaikan kelas kemarin. Kelas tiga madrasah dengan empat piala; tiga dari juara kelas berturut-turut dan satu saat menang lomba mengaji.

Benarlah Tuhan memberikan segalanya di saat yang tepat dan menjadikannya sempurna.

Abang, tingkahnya yang lucu seperti magnet bagi keluarga besar kami. Abang tumbuh sangat sehat, hobi makannya membuat kami sepakat memanggilnya boboho. Iya, artis Jepang bertubuh bulat menggemaskan itu benar-benar mirip dengannya. Soal makan anakku ini memang juaranya, tapi kalau disuruh mandi sore apalagi diajak sunat pasti langsung kabur. “bang sunat ya? masa udah gede belom sunat” bujukku. “nanti abis sunat abang dapet hadiah? kalau hadiahnya banyak baru abang mau” tawarnya dan sekali anggukan Abang tahu dua bulan lagi akan dapat banyak angpao dan hadiah dari sunat.

Pagi itu, aku sibuk berteriak menyuruh anak-anak yang asyik masih memeluk guling agar bersiap ke masjid, suara takbir idul adha sudah ramai bersahutan dari selepas subuh tadi. Tanpa komando, selesai solat anak-anakku sudah berlarian menonton hewan yang segera dikurban dan kembali ke rumah dengan sebungkus daging jatah dari masjid. Abang dengan semangat membantu uwak menyiapkan sate kambing spesial yang dibuat dari daging kurban jatah pembagian masjid untuk setiap rumah. Dua bocak lelakiku berebut menusuk daging sate lalu balapan siapa paling cepat mengipasnya. Kalau buatnya sudah seribut itu, jangan tanya soal makannya, abang pasti nomor satu! sekali lahap tidak kurang 20 tusuk sate masuk perut.

Dua hari kemudian saat kami membantu anak-anak mengerjakan PR, tau-tau Abang menangis “mi, badan abang lemes miii..” “mii liat nih mi jari abang gak bisa megang pensil.. gimana nih abang kan mau belajar mii”. Sudah dua hari sejak abang bilang lemas dan sama sekali tidak bisa menggerakkan badan. Beberapa klinik dekat rumah memberi obat seadanya yang tidak juga membuat Abang membaik. Hanya air mata dan elusan yang bisa ku berikan untuk meredakan rengekannya.

Kondisi Abang makin parah dan kami memutuskan membawanya ke rumah sakit. Di ruang ICU, aku melihat abang yang terbaring lemah dan samar-samar mendengar penjelasan dokter “ini penyakit langka, Gullian Barre Syndrom ini obatnya belum ditemukan…”. Suamiku bergegas pulang mengurus asuransi agar pengobatan anakku bisa segera dilaksanakan. Jemari ini terus mengelus kepala Abang, anak sulungku, sambil sesekali mencium pipi dan tangannya.
Lihatlah bayi mungil yang dulu membawa kebahagiaan dengan menendang-nendang perutku. Bayi yang tangis pertamanya membuat syukurku meluap-luap. Si lucu yang perlahan tapi pasti belajar merangkak dan berjalan lalu sempurna memanggilku “ummi..”. Anak yang selalu membuatku bangga dengan segudang prestasinya. Si bandel yang seminggu lalu masih kena hukum karena kabur tidak mau mandi kini tertatih antara hidup dan mati, terbaring lemah dengan selang diseluruh tubuhnya.
Detik itu, detik yang tak pernah akan ku lupa selamanya, saat suamiku tertahan macet ibukota demi membawa secarik kertas pengesahan biaya pengobatan ke rumah sakit, Abang membuka matanya yang sayu dan tetes air mata keluar. Abang sudah tidak bisa lagi bicara, virus GBS mematikan saraf-saraf di lehernya. “bang.. kalau abang udah gak kuat, gak apa-apa bang, ummi ikhlas..” dan tubuh kecil itu berhenti bernapas. Hanya kami berdua, seperti kelahirannya yang tak sempat ditunggui ayah, Abang pergi meninggalkanku selamanya.

Note:
Dalam memori Asfa Dafi Biya, sepupu saya yang terkena GBS 9 Oktober 2014 lalu. Semoga Allah memberi kami kekuatan dan kesabaran dalam cobaan ini, aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s