Uncategorized

Powerfull Man Power

such an intriguing title isnt it? Hahaha. 

Kira-kira sebulan yang lalu saya ikutan – well, mengisi waktu luang mumpung jadi pengangguran – semacam seminar atau kelas inspiratif yang diisi Muhammad Al-Arief, seorang alumni UI dan sekarang jadi senior communication staff, world bank Washington.

Whoa! Semakin menarik dibanding judulnya kan ya? :p 

Menyenangkan sekali mendengar ada orang Indonesia, satu almamater – selain Ibu Sri Mulyani – yang berprestasi di luar negeri. Awalnya Pak Arief, cerita tentang berlikunya jurusan yang dia ambil, mulai dari D3 trus ke ekstensi trus masuk jurusan lain dan akhirnya menyelesaikan S2. Setelah selesai kuliah dia sempat kerja di Indonesia selama 2 tahun, dan waktu lagi iseng-iseng buka website world bank ada lowongan staf dengan persyaratan mengerti tentang hukum tipografi politik Indonesia (if I’m not mistaken) karena saat itu negara kita memang sempat jatuh karena krisis ekonomi dan berakhirnya orde baru. Dan lembaga itu kemudian mencari orang yang paham tentang perpolitikan untuk tahu seberapa jauh bisa membantu negara kita bangkit (sort of like that).

Singkatnya Pak Arief bekerja untuk lembaga donor tersebut dan tinggal di beberapa negara yang sempat jadi “rumah”nya antara lain India, Brasil dan sekarang DC. Menarik sekali mendengar bagaimana kebudayaan negara lain mempengaruhi sumber daya manusianya ketika bekerja di negara lain. Misalnya orang Indonesia yang tidak outspoken tapi loyal, bagaimana ulet dan perfeksionisnya orang jepang. Bahasa, ditengarai jadi salah satu alasan. Pak Arief bilang bahwa di India bahkan drivernya berani ngobrol dengan bahasa inggris walaupun tata bahasa yang dipakai tidak sempurna. Jadi beliau sangat tidak heran dengan besarnya sumber daya India di beberapa lembaga bisa membuat kebijakan-kebijakan yang menguntungkan negaranya.

Menurut saya, bukan cuma bahasa yang jadi akar masalahnya, tapi keberanian/tidak malu dan takut salah yang jadi penghambat. Dan karena keberanian tersebut juga, India jadi negara dengan suara dominan di beberapa lembaga donor. Penjelasan Pak Arief mengingatkan saya pada unjuk rasa yang dilakukan warga India di konfrensi WTO di Bali, Indonesia. Dengan persistensi selama beberapa tahun, mereka akhirnya berhasil mendapatkan pengecualian dibanding negara-negara berkembang lain untuk menaikkan subsidi bagi pertanian lokalnya selama (kalau tidak salah) 10 tahun.

So why we’re still afraid to be outspoken? Dont we see how big the impact?

Be brave and loud, bring this country to the next level of proud.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s