ProsaKata

Jakarta dan Hujan

Jakarta dan Hujan, seperti sesak yang terus bersautan. Memang rindu itu susah dipendam.

Jakarta dan Hujan, seperti kenangan lama yang muncul dan tak bisa ditahan. Kita merayakan duka dengan senyuman, ya, kita.

Menikmati Jakarta dan Hujan, menyesap kopi pekat dalam-dalam satu tegukan lalu terdiam, menunggu waktu yang lambatnya keterlaluan, bahkan untuk sekedar satu pertemuan.

Jakarta dan Hujan, kaki-kaki kecil berlarian mencari peruntungan. Sisanya para oportunis yang sibuk mencari perlindungan dari derasnya yang berjatuhan. Kita, asyik dalam ingatan yang saling menghangatkan.

Jakarta dan Hujan, derasnya kadang keterlaluan seperti kegilaan dalam pengharapan yang datang bergantian. Lalu tiba-tiba aku takut untuk kehilangan (lagi).

Jakarta dan Hujan, Payung-payung berseliweran mencari kesempatan bagi si pencari keteduhan. Ironis, sang empunya malah kebasahan.

Akhirnya, Jakarta dan Hujan, basahnya menyadarkan(ku). Kita ada tapi tiada. Beriringan namun bersisian. Menggenggam tapi saling melepaskan. Bulir terakhirnya mengingatkan bahwa sebenarnya, kita (tidak) ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s