Uncategorized

“pertemukan lagi…pertemukan lagi”

Bersahut-sahutan. Beradu jadi paling merdu. Takbir berkumandang dari speaker satu dengan speaker lain. Seolah mengingatkan ini malam takbiran. Ramai sekali rasa yang ditangkap telinga, tapi ada kosong di sini. Di dalam sini. Seperti palu yang menusuk-nusukan paku ke dinding retak, dadaku seketika sesak. Teringat cerita “malam lebaran dan penghuni kubur” airmata pertamaku jatuh.
Mereka berteriak, menangis, mengutuki diri yang semasa hidup melewatkan Ramadhan. Memohon belas kasih Yang Esa agar bisa hidup sekali lagi saja dan khusyuk menjalani Ramadhan. Tapi tak bisa, waktu mereka di dunia telah habis. Tak akan lagi bisa merasa bulan penuh limpahan pahala, dimana tidur pun bisa jadi kunci masuk pintu surga. Bulan dimana si kaya menghambur-hamburkan rezeki yang tak ada habisnya, tapi justru semakin banyak yang kembali padanya. Bulan dimana hati terasa bagai dalam buaian karena bibir yang selalu membaca qur’an dan mengucap zikir. Bulan mulia yang diakhirnya manusia seperti lahir kembali, fitri. Mereka berteriak “seandainya kami tau Tuhan, seandainya kami tau betapa bulan ini sangat banyak rahmah yang Kau turunkan, seandainya kami sadar betapa silaturahim bisa memberatkan timbangan… ampuni kami yang lalai duhai Sang Pengasih”

Pelan takbir bergemuruh di dadaku, “Ya Rabbi, pertemukan lagi aku dengan Ramadhan nan suci, yang mengembalikan jiwa ini pada hakikat fitri. Jadikan amalanku di Ramadhan mendatang lebih baik dari hari ini”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s