fiksi / Uncategorized

Pulang

Badanku terguncang-guncang keras, sulit sekali terpejam mengistirahatkan mata yang belakangan terus mencari jawaban. Kereta Jakarta-Cirebon yang kutumpangi terus bergerak seperti serdadu perang terburu-buru mengejar musuh.
Tadi pagi, setelah puluhan kali mengirim pesan tanpa balas dan menunggu ribuan menit nada tunggu yang tak juga dijawab, aku mengepak keberanian dalam tas lusuh yang dia tinggalkan dan memutuskan menyusulnya.
Pesan singkatnya sesaat sebelum pergi “tunggu aku, kita pasti bisa melewatkan ini”. Tapi Sam, lelaki yang selama dua tahun ini kupertahankan mati-matian bahkan sampai meninggalkan ibu dan keluarga di Malang justru menghilang tanpa kabar.
Jendela mematulkan bayangan wajahku yang pucat menahan perut yang lupa diisi, ah Sam pasti marah kalau tahu aku tadi melewatkan sarapan demi membeli kue soes favoritnya. Dan astaga! kenapa aku pakai kaos begini, kan Sam lebih suka kalau aku pakai yang feminim. Mungkin sedikit make up bisa bikin penampilanku membaik.
Tiga jam lebih aku naik becak berkeliling mencari kantor Sam, dan hampir jam pulang kantor saat Sam akhirnya muncul. Kami berjalan pelan dari pabrik sampai depan jalan raya, terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
“aku beli soes favorit kamu, nih” aku menemukan kata-kata untuk membuka percakapan dan dibalas singkat “makasih”. Ada yang hilang saat aku membaca matanya, “aku beli banyak, jadi kamu bisa puas makannya”. “Fa, kereta kamu ke Jakarta jam berapa? udah jam segini, nanti telat” Sam memutus senyumku.
“I have no ticket” jawabku datar, Sam menunduk “pulanglah Fa”.
“aku datang bukan untuk memelas rasa kasihan, aku hanya memastikan apa kata-katamu dulu yang memintaku menunggu masih bisa kita pertahankan”.
Ada diam yang terlalu lama saat Sam menggenggam tanganku tanpa suara. Aku mendengarnya bernapas panjang-panjang.
Lelahkah ia dengan cerita kami? Lelahkah ia mempertahankan kami? entahlah.
“Fa…. lupakan janji-janji kita dulu, aku tidak lagi bisa mempertahankan semuanya, aku takut kamu kehabisan kesabaran menungguku”
“pernah aku kehabisan sabarku untuk kamu Sam?”

Kosong.

“baik, aku pulang sekarang”
“maafkan aku Fa..”

Dan angin malam menemaniku pulang ke Jakarta, tanpamu, tanpa harapan adanya kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s